Belajar Ilmu Ikhlas Itu Susah

Pada postingan kali ini diriku ingin curhat lagi bercerita tentang kehilangan suatu benda yang kumiliki. Jika pada postingan sebelumnya diriku pernah bercerita tentang Hilangnya anjingku bernama si Mopy, maka pada postingan kali ini aku ingin bercerita tentang hilangnya sepatu sport ku. Sepatu ini adalah sepatu olahraga yang sering kugunakan untuk lari pagi, lari sore, maupun jalan-jalan. Kejadian ini terjadi pada bulan yang lalu dan pada hari Minggu pagi (23 Februari 2014) sepatu ini masih kugunakan saat lari pagi. Seusai lari pagi, sepatu ini hanya ku letakkan di bawah lemari tempat penyimpanan sepatu di teras rumah.

Keesokan harinya sepatu ini tidak kuperhatikan apakah ada dibawah lemari di teras rumah atau tidak. Aku baru sadar kehilangan sepatu pada Selasa sore ketika hendak lari sore. Pada hari selasa seusai pulang kerja sekitar pukul 14.00 WIB, diriku berencana pergi membayar rekening  listrik dan rekening air minum. Tapi sebelum berangkat ku ganti baju dan makan siang terlebih dahulu. Ketika hendak berangkat ternyata sendal jepit Swallow ku tidak kelihatan. Setelah bertanya kepada tetangga sebelah, ternyata sendal itu mereka pakai dan lupa mengembalikan. Ada rasa kesal juga memang karena mengambil punya orang lain tanpa permisi.

Sepatuku yang hilang

Saat mau berangkat bayar air sampai kembali pulang ke rumah, aku belum menyadari kehilangan sepatu ku itu. Sepulang bayar rekening listrik dan air, ku masih sempat menonton televisi. Namun tiba-tiba listrik padam dengan durasi waktu yang cukup lama. Karena bosan di rumah, ku berencana pergi lari sore saja. Setelah mengenakan pakaian olahraga, alangkah terkejutnya diriku saat mengetahui sepatu tersebut tidak ada lagi. Diriku pun uring-uringan... Darah militerku (sok militer hahahaha) mulai memuncak karena sebelumnya juga merasa kesal karena masalah sendal jepit tersebut.

Aku memang kurang tau persis kapan kehilangan sapatu itu, apakah hari Senin atau hari Selasa. Dengan uring-uringan aku bertanya kepada para tetangga menanyakan sepatu tersebut. Karena dugaanku pada saat itu sepatu tersebut hilang berbarengan dengan sendal jepit yang sudah kutemukan tersebut. Karena tidak ada yang mengaku, akhirnya terlontar dari mulutku mengatakan akan mendukuni siapa saja yang mengambil sepatu tersebut. Hal ini kulakukan untuk menakut-nakuti siapa tau ada diantara mereka yang mengambil sepatu tersebut. Tapi sampai pukul 18.00 WIB hasil pencarian tak kunjung membuahkan hasil.

Sepatu cadangan yang kuperbaiki

Pada kejadian sebelumnya aku masih bisa ikhlas jika kehilangan sesuatu, tapi ternyata jika terlalu sering kehilangan sesuatu atau benda yang kita punya rasa ikhlas itupun susah untuk dijalankan. Sampai tengah malam kucoba mengikhlaskan sepatu tersebut tapi tetap saja tidak bisa, mungkin karena itu salah satu sepatu yang ku sukai. Rasa ikhlas itu baru bisa mulai tumbuh pada keesokan harinya. Aku memang masih punya sepatu olahraga cadangan tapi telapaknya sudah lepas. Akhirnya sepatu cadangan inilah yang ku lem kembali menggunakan lem super lengket yang kubeli dari warung. Walaupun hasil pengeleman yang kubuat tidak rapi, tapi sepatu tersebut bisa kembali ku gunakan. Ternyata belajar ilmu ikhlas itu sangat susah dan banyak tantangannya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Belajar Ilmu Ikhlas Itu Susah"

Post a Comment